Kupang, Avis News — Kreativitas dari bahan yang selama ini dianggap limbah kembali mencuri perhatian di panggung internasional. Desainer asal Dramaga, Kabupaten Bogor, Laras Andriyani, meraih penghargaan Avant-Garde Award dalam Australian Wearable Art Festival 2026 di Australia.

Laras tampil dengan karya busana eksperimental yang memanfaatkan limbah nanas sebagai salah satu material utama. Bahan yang identik dengan sisa produksi pangan tersebut diolah menjadi bagian dari busana artistik dengan karakter visual yang kuat.

Karya itu memperlihatkan bagaimana material sederhana dapat ditransformasikan menjadi produk fesyen yang memiliki nilai estetika sekaligus membawa pesan mengenai keberlanjutan.

Dari Limbah Menjadi Karya

Penggunaan limbah sebagai bahan utama menjadi salah satu kekuatan karya Laras. Ia tidak sekadar menghadirkan busana untuk dilihat, tetapi mencoba mempertemukan seni, fesyen, kreativitas dan isu lingkungan dalam satu karya.

Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan ketika industri fesyen dunia menghadapi tuntutan untuk mengurangi penggunaan material yang menghasilkan limbah serta mendorong pemanfaatan bahan alternatif.

Penghargaan di Australia menunjukkan bahwa karya berbasis material lokal dan pendekatan berkelanjutan memiliki peluang untuk masuk ke ruang apresiasi internasional.

Membawa Cerita dari Bogor ke Panggung Dunia

Laras yang berasal dari Dramaga, Kabupaten Bogor, menunjukkan bahwa karya kreatif tidak selalu harus lahir dari pusat industri fesyen.

Justru, lingkungan sekitar dapat menjadi sumber inspirasi. Limbah hasil pertanian dan pangan yang sebelumnya memiliki nilai ekonomi rendah dapat dikembangkan menjadi material kreatif apabila dipadukan dengan inovasi dan keterampilan desain.

Di titik inilah karya Laras menjadi lebih dari sekadar busana. Ia membawa gagasan bahwa sesuatu yang dianggap sisa masih dapat memiliki kehidupan kedua.

Penghargaan tersebut sekaligus menjadi catatan bagi perkembangan industri kreatif Indonesia. Kreativitas berbasis lingkungan memiliki ruang untuk berkembang di pasar global, selama mampu dikemas dengan desain, kualitas dan cerita yang kuat.

Bagi Indonesia, prestasi Laras menjadi pengingat bahwa kekuatan ekonomi kreatif tidak hanya berada pada bahan mahal atau teknologi tinggi. Kadang, nilai baru justru dapat ditemukan dari sesuatu yang selama ini dibuang.